Senin, 28 Februari 2011

Lukisan Seorang Prajurit

Ada seorang ayah dan anak dari sebuah keluarga kaya di Amerika. Mereka memiliki hobi mengumpulkan berbagai benda karya seni langka. Ayah dan anak ini memiliki koleksi lukisan Picasso dan Raphael. Seringkali mereka duduk dan mengagumi koleksi seni yang mereka miliki.

Suatu hari perang Vietnam dimulai. Amerika mengirimkan prajurit-prajuritnya ke medan perang, dan salah satunya adalah anak orang kaya itu. Tapi tak berapa lama di medan perang, sebuah berita menyedihkan sampai kepada sang ayah, anak yang dikasihinya itu tewas saat berusaha menyelamatkan seorang prajurit lainnya…

Beberapa bulan kemudian, menjelang hari Natal, seorang prajurit datang ke rumah orang kaya itu. Prajurit itu menyalaminya dan berkata,
“Tuan, Anda mungkin tidak kenal saya, tetapi saya adalah prajurit yang diselamatkan oleh anak Anda. Saat dia sedang berusaha menyelamatkan saya, sebuah peluru mengenai dadanya dan ia tewas... Sebelumnya, saya sering berbincang dengannya dan ia sering menceritakan kecintaan Anda akan seni.”

Anak muda itu mengeluarkan sebuah kotak, dan memberikannya kepada bapak itu.
“Saya tahu ini tidak seberapa, dan saya pun bukanlah seorang pelukis hebat, tetapi saya pikir anak Anda ingin Anda mendapatkan ini.”

Sang bapak membuka kotak yang berisi lukisan wajah putranya, yang dilukis olah anak muda itu. Dia kagum bagaimana si prajurit menggambarkan anaknya di lukisan itu, dan sangat terharu. Karena begitu berterima kasih, pria itu ingin membayar prajurit itu.
“Jangan tuan, saya tidak akan pernah dapat membayar pengorbanan anak Anda. Ini adalah sebuah hadiah.”

Bapak itu kemudian menggantung lukisan itu diantara koleksi-koleksinya. Dan setiap kali ada tamu, ia selalu memperlihatkan lukisan itu terlebih dahulu sebelum kepada lukisan-lukisan yang lain… Tapi beberapa waktu kemudian, bapak itu meninggal dunia. Dan karena tidak ada anggota keluarga dan ahli waris yang lain, lukisan-lukisan koleksinya akhirnya di lelang, termasuk lukisan putranya.

---------

Juru lelang mengetukkan palunya ke meja,
“Kami akan mulai dengan melelang lukisan putra dari pemilik lukisan-lukisan ini. Siapa yang mau menawar lukisan ini?”

Tidak ada orang yang mengangkat tangan atau bersuara, kebanyakan dari mereka yang menghadiri pelelangan itu adalah para kolektor benda seni langka. Mereka datang hanya untuk membeli benda dan lukisan terkenal. Jadi ketika juru lelang bertanya lagi,
“Siapa yang mau menawar lukisan ini?”
Seorang peserta lelang kemudian bersuara,
“Kami ingin melihat lukisan yang terkenal. Lewatkan saja yang satu ini.”

Tetapi juru lelang tersenyum dan berkata,
“Maaf tidak bisa. Ayo, siapa yang ingin menawar? 200 dolar, 100 dolar?” Namun tetap saja tidak ada yang mau menawar.

Juru lelang tetap saja dengan tenang terus menawarkan lukisan itu, sampai akhirnya seorang pria yang terlihat biasa saja mengangkat tangannya,
“Saya tawar 10 dolar...”

“Baik… 10 dolar… Ada yang mau menawar lebih tinggi?”
Semua peserta lelang saling memandang sekeliling, tapi tidak ada lagi yang memberikan tawaran.

Juru lelang akhirnya mengetukkan palunya.
“Baiklah, terjual 10 dolar kepada bapak dengan jas abu-abu! Pelelangan saya tutup! Terima kasih.”

Semua peserta pelelangan kebingungan, kenapa pelelangan sudah di tutup, padahal belum ada satupun lukisan lain yang terjual. Ada yang saling bertanya, sementara yang lainnya mulai mengajukan protes.

“Mohon maaf, pelelangan sudah selesai. Ketika saya diminta untuk memimpin pelelangan ini, saya diberi pesan berdasarkan wasiat dari pemilik lukisan. Hanya lukisan anaknya yang dilelang. Siapapun yang membeli lukisan anaknya, akan mewarisi semua kekayaan dan juga semua koleksi lukisannya. Jadi bapak yang membeli lukisan anaknya inilah yang mendapatkan semuanya!”

----------

Tahukah kita bahwa hal yang sama ditawarkan kepada dunia, juga saudara dan saya. Barang siapa menerima Anak-Nya, akan dikaruniai dengan keselamatan, beserta segala berkat dan kuasa yang terkandung di dalam-Nya…

Kadang tanpa kita sendiri sadari!
Well, now you know!

Tuhan Yesus memberkati…

Sebuah Hadiah Dari Tuhan

Hari itu adalah hari pertama masuk SMA, saya melihat seorang anak dari kelas saya pulang sekolah dengan membawa semua bukunya, namanya Kyle. Saya berpikir, “Mengapa dia membawa pulang semua bukunya di hari Jumat? Pasti dia orang yang aneh.” Saya sendiri sudah memiliki rencana untuk akhir minggu ini, pesta dan nonton pertandingan sepakbola. Jadi saya mengangkat bahu dan kembali berjalan pulang.

Tapi kemudian saya melihat beberapa anak lain berlari melewati Kyle dan menyenggolnya. Kyle terjatuh dengan buku-bukunya berhamburan, kacamatanya terlempar dan saya berdiri sekitar sepuluh kaki di belakangannya. Saya merasa kasihan, jadi saya mendekati dan membantunya bangun.

Dia menatap saya dan berkata, “Terima kasih!” Saya membantu memunguti buku-bukunya, dan bertanya dimana dia tinggal. Sepanjang perjalanan pulang, kami banyak berbincang dan saya membawakan beberapa bukunya. Ternyata dia anak yang cukup asik. Saya mengajaknya untuk bermain bola Sabtu besok dengan teman-teman saya, dan dia menjawab, “ya.”

Selama empat tahun kemudian, kami menjadi teman baik. Dan selama itu, Kyle menjadi salah satu dari siswa yang paling hebat di SMA kami. Sangat bersemangat dan terlihat gagah dengan kacamatanya. Lebih banyak gadis yang menyukai dia dari pada saya. Terkadang saya iri juga kepadanya.
Hingga hari kelulusan menjelang, Kyle yang lulus dengan nilai terbaik diminta untuk menyampaikan pidato perpisahan.

Pada hari kelulusan, Kyle terlihat sangat gugup menjelang pidatonya, jadi saya menepuk pundaknya dari belakang, “Kamu pasti hebat!” Dia melihat saya dan tersenyum. “Terima kasih.”

Ketika dia mulai berpidato, dia menarik nafas panjang dan berkata,
“Kelulusan adalah waktu untuk berterima kasih kepada mereka yang menolong kita menjalani tahun-tahun yang berat. Orang tua kita, guru kita, saudara kita, mungkin pelatih..., tetapi yang terutama adalah teman-teman. Saya disini untuk memberi tahu Anda bahwa menjadi teman seseorang adalah hadiah terindah yang bisa Anda berikan. Saya akan menceritakan sebuah cerita kepada Anda...”

Saya hanya memandang sahabat saya itu dengan rasa tidak percaya, ketika ia mulai menceritakan perjumpaan pertama kali kami saat ia jatuh dengan buku-bukunya itu. Saat itu ternyata dia sedang merencanakan untuk bunuh diri di akhir minggu itu. Dia mengatakan sengaja membawa semua benda miliknya pulang, sehingga ibunya tidak perlu lagi melakukannya nanti. Dia memandang lurus kearah saya dan tersenyum,
“Untunglah saya diselamatkan. Sahabat saya telah melakukan sesuatu yang tidak terkatakan.”

Saya mendengar tepuk tangan dari kerumunan bagi sahabat saya yang menceritakan masa terlemah dalam hidupnya itu. Saya melihat ayah dan ibunya memandang saya dengan senyuman penuh terima kasih. Hingga saat ini, saya tidak pernah tahu bahwa apa yang saya lakukan ternyata berdampak begitu besar.

----------

Ketika kita hidup untuk menjadi berkat, akan ada waktu-waktu ketika semuanya terasa sia-sia dan tidak ada gunanya. Semua karya dan kebaikan yang kita lakukan seakan-akan tidak berdampak apa-apa.

Tapi kita tahu kita tidak boleh berhenti.

Dampak yang kita berikan buat sekeliling, tidak keluar dari ‘kebaikan-kebaikan besar’ yang kita lakukan ‘sekali-sekali.’ Tapi dari perbuatan-perbuatan kecil yang ‘terus-menerus’ memancarkan Kasih Kristus.

Jangan berhenti mengasihi, jangan berhenti berkarya, jangan berhenti bersinar walaupun sukar… Karena setiap usaha yang kita lakukan bersama Tuhan, tidak pernah kembali dengan sia-sia.

Minggu, 27 Februari 2011

Masa-masa Sulit

Saat itu tahun 1968, Charles Swindoll sedang dalam perjalanan dengan pesawat menuju New York, sebuah penerbangan rutin yang membosankan…

Tetapi kali ini sepertinya tidak. Saat pesawat bersiap untuk mendarat, pilot menyadari bahwa roda pesawat tidak bisa diturunkan. Pesawat harus mendarat secara darurat. Penumpang akhirnya diberitahu untuk menundukkan kepala dan menempatkannya di antara kedua kaki mereka sambil memegang pergelangan kaki untuk mengurangi dampak kecelakaan.

Kemudian, beberapa menit sebelum pendaratan darurat itu dilakukan, pilot membuat pengumuman melalui pengeras suara,
“Kita akan mulai melakukan pendaratan. Saat ini, sesuai dengan Peraturan Penerbangan Internasional Jenewa, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk memberitahu bagi anda yang percaya kepada Tuhan untuk memanjatkan doa.”

Pendaratan dapat dilakukan dengan baik. Tidak ada yang terluka, selain kerusakan besar pada pesawat, dan maskapai penerbangan akan mengingat hal itu untuk waktu yang lama…

Di Amerika Serikat, pada saat-saat krisis, bencana, ancaman bahaya, Juru Bicara Pemerintahan akan membuat pengumuman melalui media, supaya masyarakat tetap tenang dan berdoa…

Dalam keadaan sulit, dalam keadaan tidak mampu lagi secara manusia, biasanya kita lebih bisa untuk mengandalkan Tuhan. Dan bukankah terbukti dari masa ke masa, ketika orang-orang berseru kepada Tuhan, mujizat terjadi? Sekalipun kita berseru kepada Tuhan hanya pada saat-saat terakhir…

----------

Tapi tulisan ini justru untuk mengingatkan kita, bahwa bukan hanya pada masa-masa sulit kita bisa mengandalkan Tuhan. Bukan hanya pada masa-masa sulit kita bisa melihat keajaiban! Keajaiban disediakan setiap hari, bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Kita bisa berseru kepada-Nya setiap saat, karena setiap saat, keajaiban disediakan bagi kita!

Sometimes, we just forget to ask...

Sabtu, 26 Februari 2011

THE MIRACLE OF 4 SEASON

Seorang ayah menyuruh keempat anaknya ke hutan melihat sebuah pohon pir.

Anak ke-1 disuruhnya pergi pada musim DINGIN
Anak ke-2 pada musim SEMI
Anak ke-3 pada musim PANAS
dan yg ke-4 pada musim GUGUR

Lalu masing2 dari mereka pulang dan memberikan pendapat yang berbeda;

Anak 1: pohon pir itu tampak sangat jelek dan batangnya bengkok.
Anak 2: pohon itu dipenuhi kuncup2 hijau yg menjanjikan.
Anak 3: pohon itu dipenuhi dg bunga2 yg menebarkan bau yg harum.
Anak 4: ia tdk setuju dgn saudaranya, ia berkata bhw pohon itu penuh dengan buah yg matang dan ranum.

Sang ayah berkata: "kalian semua benar, hanya saja kalian melihat di waktu yg berbeda. Mulai skrg jangan pernah menilai kehidupan hanya berdasarkan satu masa yg sulit saja, selalu akan ada masa 4 musim yg sempurna! "

Saat mengalami 1 musim sulit, nantikan saja siklus musim berikutnya. Kerjakan saja apa yang menjadi bagian kita, dan biarkan Tuhan untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya

Jika kita tidak bersabar ketika berada di musim dingin,
Maka kita akan kehilangan musim semi dan musim panas yg menjanjikan harapan,
Dan kita tidak akan memanen hasil terbaik pada musim gugur...

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan -Yer 29:11-

Ke Dalam Tangan Sang Maestro

Suatu hari, di depan gerbang sebuah jembatan di salah satu kota di Eropa, berdiri seorang yang buta. Untuk mencari nafkahnya, setiap hari dia berdiri di situ sambil memainkan biola tuanya. Di hadapannya diletakkannya sebuah kaleng kosong tempat orang-orang yang lewat menaruh uang receh…

Suatu hari lewat seorang yang berpakaian rapi dengan jubah panjang. Dari kejauhan dia memperhatikan permainan orang buta itu, dan ketika sudah dekat dia menyadari kalau kaleng uang orang buta itu hampir tidak berisi sama sekali…
Akhirnya dia mendekati orang buta itu untuk meminjam biolanya,
“Maaf pak, bolehkah saya meminjam biola bapak? Ijinkan saya memainkan sebuah lagu…” katanya dengan ramah.
Orang buta itu sedikit terkejut, tapi mendengarkan nada bicara yang ramah dari orang yang berbicara kepadanya, dia menjawab dengan tersenyum,
“Wah, maaf tuan, tidak biasa, saya tidak mengenal anda. Lagipula biola ini harta saya satu-satunya dan saya gunakan untuk mencari nafkah…”
“Saya mengerti, saya berjanji tidak akan merusak biola anda, percayalah…”

Orang buta itu menyerahkan biolanya dengan ragu-ragu…
Tapi keraguannya segera berubah menjadi kekaguman yang luar biasa ketika orang berjubah panjang itu mulai memainkan biola tuanya… Nada-nada yang sangat merdu mulai terdengar memenuhi gerbang jembatan itu. Orang-orang yang lewat mulai mengerumuni mereka berdua. Ada keheningan yang tercipta ketika semua orang yang lewat berhenti untuk mendengarkan suara musik yang luar biasa itu…

Orang buta itu mendengar dengan takjub, dia sendiri tidak tahu kalau biola tuanya bisa mengeluarkan suara semerdu itu! Kaleng uangnya sekarang tidak lagi kosong. Banyak uang lain yang berserakkan di dekat kaleng uangnya karena tidak ada lagi ruang kosong.

Setelah beberapa saat, orang berjubah panjang itu akhirnya menghentikan permainannya. Dia mengucapkan terima kasih kepada kerumunan, kemudian mengembalikan biola kepada orang buta itu.
“Terima kasih, sekarang saya harus pergi.”
Dengan penuh rasa terima kasih, orang buta itu berkata,
“Terima kasih kembali tuan, bolehkah saya tahu siapa nama anda?”
Orang berjubah panjang itu tersenyum, dia berkata pelan sambil melangkah pergi,
“Paganini…”

----------

Sesungguhnya kita tidak akan pernah mengetahui seberapa hebat hidup kita bisa diubahkan, sampai kita menyerahkannya kedalam tangan Sang Maestro Agung, Yesus Kristus. Kita tidak akan pernah mengetahui perkara-perkara hebat yang bisa terjadi dalam hidup kita, sampai kita mengijinkan Dia memegang hidup kita dalam tangan-Nya…

Jangan ragu mempercayakan hidup kepada-Nya, Dia tahu persis apa yang sedang Dia lakukan…

Jumat, 25 Februari 2011

Sacrifice Of A Father

Tersebutlah seorang ayah yang sangat menyayangi putranya…
Dia bekerja sebagai penjaga jembatan rel kereta api. Tugasnya adalah menaikkan jembatan kalau ada kapal yang melintas di sungai di bawah jembatan itu, kemudian menurunkannya kembali untuk dilintasi kereta api.

Putranya sangat suka melihat kereta api, juga orang-orang yang bepergian dengannya… Di antara mereka ada orang-orang yang kesepian, ada orang-orang yang sedang marah, ada orang-orang yang egois, ada orang-orang yang terluka… dan banyak orang lainnya dengan sifat mereka masing-masing.

Suatu hari, seperti juga hari-hari lainnya, sebuah kapal melintas di bawah jembatan itu. Sang ayah segera menaikkan jembatan dan menyalakan lampu peringatan di atas rel kereta api. Lampu peringatan itu bernyala merah, yang berarti bagi masinis kereta api untuk mengurangi kecepatan. Tapi sebuah kesalahan terjadi… Masinis kereta tidak memperhatikan lampu peringatan itu, dan kecepatan kereta tidak berkurang!

Putra penjaga jembatan itu sedang memancing di pinggir sungai, ketika dia melihat kereta yang melaju kencang menuju jembatan. Sementara jembatan itu masih belum diturunkan, sebuah kapal sedang lewat di bawahnya! Anak kecil itu berlari menuju ayahnya di pos penjagaan sambil berteriak,
“Ayah! Ayah! Ada kereta yang datang terlalu cepat!”
Tapi ayahnya tidak mendengar karena suara kapal yang sedang lewat. Anak itu berseru lagi,
“Ayah! Ayah! Ada kereta yang datang terlalu cepat!” Tapi sekalipun dia berteriak keras, suara kecilnya tidak sanggup mengalahkan suara mesin kapal.

Menyadari bahaya yang sedang mengancam, dengan waktu yang sudah sangat singkat. Anak kecil yang pemberani itu kemudian berlari turun ke arah jembatan. Dia bermaksud menurunkan jembatan itu secara manual, dengan menaikkan tuas di bawah rel kereta jembatan itu! ketika dia sampai di sana, dia mengangkat penutup panel dan berusaha mengangkat tuas di bawahnya.

Ketika kapal sudah lewat, penjaga jembatan itu mengangkat wajahnya dan melihat kereta yang sedang melaju kencang ke arah jembatan. Hal pertama yang diingatnya adalah putranya! Dia segera berseru memanggil,
“Nigel!” Dia memandang mencari ke arah pinggir sungai tempat putranya tadi memancing tapi tidak melihat putranya. Seruannya segera berubah menjadi teriakkan, “Nigel!!!”

Dia kemudian melihat putranya di atas rel kereta, sedang berusaha menarik tuas untuk menurunkan jembatan. Tapi karena tuas itu terlalu berat, untuk seorang dewasa sekalipun, dia hanya bisa melihat dengan tidak berdaya ketika tubuh putranya jatuh ke bawah jembatan. Kepanikkan terlihat jelas di wajahnya, juga terdengar dari suara teriakkannya berkali-kali, “Nigel!!!”, “Nigel!!!...”

Kereta sudah sangat dekat dengan jembatan. Dia harus memilih antara dua pilihan yang sama-sama akan berakhir buruk; membiarkan semua orang di kereta untuk mati, atau menarik tuas dan membiarkan putranya diremukkan oleh jembatan…

Akhirnya dia menarik tuas dan berlari turun ke arah jembatan…

Kereta itu akhirnya melaju melalui jembatan dengan selamat. Seorang wanita di atas kereta memandang ke bawah kepada seorang laki-laki yang sedang menangis di pinggir rel. Tapi dia tidak tahu apa-apa tentang laki-laki itu. Seorang ayah yang baru saja mengorbankan nyawa putranya untuk keselamatan mereka…

Semua penumpang di kereta itu tetap sibuk dengan diri mereka masing-masing. Mereka melanjutkan hidup dengan tidak mengetahui dan tidak peduli dengan seorang laki-laki yang berjalan gontai dengan hati hancur dan air mata bercucuran, sambil menggendong tubuh hancur putranya…

Dia akhirnya duduk di atas rel sambil memeluk erat tubuh hancur itu… Putranya yang terkasih, untuk keselamatan orang-orang yang tak dikenalnya…

----------

Tahukah kita bahwa Bapa di Surga telah melakukan hal yang sama?
Untuk keselamatan semua, telah dikorbankan Dia yang paling dikasihi di Surga…
The salvation of all, required the Sacrifice of the One most dear…

Jembatan itu sudah dibangun…
Dengan harga yang terlalu mahal, karena memang hanya Cinta yang bisa…

Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya buat orang-orang yang tidak layak menerimanya...
Cinta sendiri telah dikorbankan... Ya, karena hanya Cinta yang bisa...

Aku sudah mendengarkannya

Suatu malam saya bekerja keras untuk menolong seorang ibu di sebuah bangsal rumah sakit, tapi akhirnya dia meninggal dan meninggalkan bayi prematur yang sangat mungil serta seorang anak perempuan berusia 2 tahun yang menangis…

Kami mengalami kesulitan untuk menjaga agar si bayi tetap hidup, karena kami tidak punya inkubator (kami tidak punya listrik untuk menyalakan inkubator), kami juga tidak punya makanan khusus bayi. Meskipun kami tinggal di daerah khatulistiwa Afrika, malam harinya seringkali sangat dingin dengan angin kencang.

Salah seorang muridku menaruh bayi itu dalam box dan membungkusnya dengan kain wol. Yang lain menyalakan api dan mengisi botol air panas. Muridku yang mengisi botol air panas kembali dengan kebingungan sambil bercerita bahwa botolnya meledak saat sedang diisi air panas (karet mudah rusak dalam kondisi cuaca tropis). Dan itu adalah botol air panas kami yang terakhir.
“Baiklah,” kataku, “taruh bayi itu didekat api dalam jarak yang cukup aman, dan tidurlah diantara bayi itu dengan pintu untuk menjaganya dari angin. Tugasmu adalah menjaga bayi itu tetap hangat.”

Besoknya, seperti hari-hari sebelumnya, aku pergi berdoa dengan anak-anak yatim piatu...
Sebelum berdoa aku menceritakan kepada mereka tentang bayi itu dan kakaknya. Juga tentang botol air panas dan bagaimana bayi bisa dengan mudah meninggal bila kedinginan. Dan ketika kami mulai berdoa, seorang gadis kecil berusia 10 tahun bernama Ruth berdoa,
“Tolong, Tuhan” Ruth berdoa, “kirimkan botol air. Tapi jangan besok Tuhan, karena bayinya bisa mati, jadi tolong kirim sore ini.”

Saat aku menarik napas karena keberaniannya dalam berdoa, dia menambahkan,
“Dan saat Engkau mengirimkan botol air itu, maukah Engkau mengirimkan juga boneka untuk gadis kecil itu, supaya dia tahu bahwa Engkau sungguh mengasihinya?“
Aku berkata “Amin” dengan ragu-ragu. Aku tahu Tuhan dapat melakukan segalanya, Alkitab mengatakan demikian. Tapi pasti ada batasnya, kan ? (pikiran manusia memang selalu ingin membatasi kuasa Tuhan).

Menjelang sore, ketika aku sedang mengajar di sekolah pelatihan perawat, sebuah parcel dikirimkan dengan mobil di depan pintu rumahku. Saat aku sampai di rumah, mobilnya sudah pergi, tapi di beranda ada dua puluh dua pon parcel yang sangat besar…

Aku meminta anak-anak yatim piatu untuk membantuku membuka parcel itu…
Bersama-sama kami menarik talinya, dengan hati-hati membuka simpulnya. Sebanyak 30 atau 40 pasang mata melihat ke dalam kardus tersebut. Dari atas, kami mengeluarkan baju rajutan berwarna cerah, Ada perban untuk pasien, lalu ada sekotak kismis.
Lalu, aku memasukkan tanganku lagi, dan menarik keluar sebuah botol air panas karet. Aku menangis terharu, kami memang meminta Tuhan untuk mengirimkannya. Aku hanya tidak percaya bahwa Dia benar-benar melakukannya.

Ruth ada di barisan depan dari anak-anak. Ia cepat-cepat maju sambil menangis, ”Jika Tuhan mengirimkan botolnya, Dia pasti mengirimkan bonekanya juga!”
Dan dari bagian bawah kotak, dia menarik sesuatu yang mungil, boneka bergaun indah. Mata Ruth berkilau! Dia tidak pernah ragu! Sambil melihatku dia berkata, ”Bolehkah aku pergi bersamamu dan memberikan boneka ini kepada gadis kecil itu, supaya dia tahu Yesus sangat mencintainya?...”
“Ya Ruth, Ya…” Kataku terharu.

Ternyata parcel ini telah dipersiapkan dan dikirim 5 bulan lalu. Dibungkus oleh Siswa Kelas Hari Mingguku di Amerika, yang saat mempersiapkan parcel itu, Tuhan telah mengingatkan untuk mengirimkan botol air panas juga. Lalu salah satu dari siswaku juga telah memberikan boneka untuk dikirimkan ke anak Afrika.

Dan itu semua terjadi 5 bulan sebelumnya, sebagai jawaban dari doa seorang anak gadis 10 tahun untuk membawanya “sore ini.”

“Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya.“ (Yesaya 65:24)