Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku. Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.
Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya …. astaga!!
Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.
Rabu, 09 Maret 2011
Selasa, 08 Maret 2011
Seekor Keong
Tuhan memintaku menemani seekor keong jalan-jalan. Aku tidak mengerti maksud-Nya, tapi kulakukan saja…
Aku tidak dapat berjalan terlalu cepat, karena keong jalannya lambat. Dia sudah berusaha keras mengimbangi langkahku, tapi setiap kali hanya beringsut sedemikian sedikit.
Aku mulai kehilangan kesabaran, aku mulai mendesak, menghardik dan memarahinya. Dia memandangku dengan tatapan penuh permohonan maaf, seakan mau berkata “aku sudah berusaha sekuat tenaga…”
Aku mulai menarik, menyeret bahkan menendangnya. Keringatnya mengucur deras, nafasnya tersengal-sengal, tapi walaupun pelan, dia tetap terus merangkak maju… Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku menemani seekor keong jalan-jalan?!
Keong tetap merangkak pelan di depan, aku kesal di belakang. Akhirnya aku menarik nafas panjang dan mulai pelankan langkah, mulai menenangkan hati…
Oh?! Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman. Aku rasakan hembusan angin, ternyata angin malam itu sedemikian lembut. Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing. Aku menengadah ke atas, langit penuh bintang cemerlang!
Wow! Mengapa dulu aku tidak merasakan semua ini ?
Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga… Mungkin bukan aku yang Tuhan minta menemani keong jalan-jalan, mungkin keong itulah yang diminta Tuhan untuk bersabar menemaniku, sampai kupahami pelajaran berharga yang tak pernah kumengerti sebelumnya…
----------
Banyak dari kita berjalan melalui hidup terlalu cepat. Tidak lagi memperhatikan sekeliling dan sesama. Berusaha menggapai tujuan dengan tidak peduli apa atau siapa yang harus dikorbankan…
Ada waktu-waktu ketika kita harus melambatkan langkah… Menyempatkan waktu untuk memperhatikan sekeliling dan sesama. Menyempatkan waktu untuk bersyukur dan berterima kasih. Menyempatkan waktu untuk berdoa…
Doa dan hubungan dengan Tuhan bukanlah membuang waktu dengan sia-sia, justru dalam doalah terletak semua kekuatan yang akan engkau butuhkan untuk menjadikan waktu-waktu yang lain jauh lebih berharga…
Aku tidak dapat berjalan terlalu cepat, karena keong jalannya lambat. Dia sudah berusaha keras mengimbangi langkahku, tapi setiap kali hanya beringsut sedemikian sedikit.
Aku mulai kehilangan kesabaran, aku mulai mendesak, menghardik dan memarahinya. Dia memandangku dengan tatapan penuh permohonan maaf, seakan mau berkata “aku sudah berusaha sekuat tenaga…”
Aku mulai menarik, menyeret bahkan menendangnya. Keringatnya mengucur deras, nafasnya tersengal-sengal, tapi walaupun pelan, dia tetap terus merangkak maju… Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku menemani seekor keong jalan-jalan?!
Keong tetap merangkak pelan di depan, aku kesal di belakang. Akhirnya aku menarik nafas panjang dan mulai pelankan langkah, mulai menenangkan hati…
Oh?! Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman. Aku rasakan hembusan angin, ternyata angin malam itu sedemikian lembut. Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing. Aku menengadah ke atas, langit penuh bintang cemerlang!
Wow! Mengapa dulu aku tidak merasakan semua ini ?
Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga… Mungkin bukan aku yang Tuhan minta menemani keong jalan-jalan, mungkin keong itulah yang diminta Tuhan untuk bersabar menemaniku, sampai kupahami pelajaran berharga yang tak pernah kumengerti sebelumnya…
----------
Banyak dari kita berjalan melalui hidup terlalu cepat. Tidak lagi memperhatikan sekeliling dan sesama. Berusaha menggapai tujuan dengan tidak peduli apa atau siapa yang harus dikorbankan…
Ada waktu-waktu ketika kita harus melambatkan langkah… Menyempatkan waktu untuk memperhatikan sekeliling dan sesama. Menyempatkan waktu untuk bersyukur dan berterima kasih. Menyempatkan waktu untuk berdoa…
Doa dan hubungan dengan Tuhan bukanlah membuang waktu dengan sia-sia, justru dalam doalah terletak semua kekuatan yang akan engkau butuhkan untuk menjadikan waktu-waktu yang lain jauh lebih berharga…
Senin, 07 Maret 2011
Helping Hand
Seorang pria dari suku Indian, suatu hari memutuskan untuk menjadi Kristen. Dia kemudian mulai menceritakan tentang Yesus kepada banyak orang lain sejak hari itu…
“Mengapa kamu selalu membicarakan dan menyebut nama Yesus?”, tanya seorang sahabatnya suatu hari. Pria Indian ini terdiam sebentar, perlahan kemudian mengambil sejumlah ranting dan rumput kering dan dibuatnya menjadi lingkaran. Diletakkannya seekor ulat di tengah-tengah lingkaran, kemudian membakar ranting dan rumput kering itu.
Dua orang Indian itu menyaksikan bagaimana ulat di tengah-tengah api itu menggeliat karena kepanasan. Ulat itu terus menggeliat tanpa punya kemampuan untuk mengeluarkan dirinya sendiri dari situasi itu. Situasi yang akan segera membunuhnya jika tidak ditolong…
Tak lama sang Indian mengulurkan tangannya, dan ulat itu merambat naik dengan selamat…
Indian itu menatap sahabatnya dan berkata,
“Seperti itulah yang dilakukan Yesus bagiku… Dalam keadaan tak berdaya di tengah-tengah bahaya, Dia mengulurkan tangan-Nya dan menyelamatkan aku…”
----------
Tangan berlobang paku itu selalu terulur buat setiap kita… Tidak peduli sebesar apapun masalah sekelilingmu, Tangan itu sanggup untuk mengangkat dan menyelamatkan engkau…
Berserulah hari ini, dan saksikan keselamatanmu datang! Karena itulah Dia disebut Juruselamat, karena Dia selalu menyelamatkan! Dan pertolongan-Nya yang tidak pernah terlambat…
Bala tentara-Nya sudah siap! You just need to command them! In Jesus Mighty Name!
“Mengapa kamu selalu membicarakan dan menyebut nama Yesus?”, tanya seorang sahabatnya suatu hari. Pria Indian ini terdiam sebentar, perlahan kemudian mengambil sejumlah ranting dan rumput kering dan dibuatnya menjadi lingkaran. Diletakkannya seekor ulat di tengah-tengah lingkaran, kemudian membakar ranting dan rumput kering itu.
Dua orang Indian itu menyaksikan bagaimana ulat di tengah-tengah api itu menggeliat karena kepanasan. Ulat itu terus menggeliat tanpa punya kemampuan untuk mengeluarkan dirinya sendiri dari situasi itu. Situasi yang akan segera membunuhnya jika tidak ditolong…
Tak lama sang Indian mengulurkan tangannya, dan ulat itu merambat naik dengan selamat…
Indian itu menatap sahabatnya dan berkata,
“Seperti itulah yang dilakukan Yesus bagiku… Dalam keadaan tak berdaya di tengah-tengah bahaya, Dia mengulurkan tangan-Nya dan menyelamatkan aku…”
----------
Tangan berlobang paku itu selalu terulur buat setiap kita… Tidak peduli sebesar apapun masalah sekelilingmu, Tangan itu sanggup untuk mengangkat dan menyelamatkan engkau…
Berserulah hari ini, dan saksikan keselamatanmu datang! Karena itulah Dia disebut Juruselamat, karena Dia selalu menyelamatkan! Dan pertolongan-Nya yang tidak pernah terlambat…
Bala tentara-Nya sudah siap! You just need to command them! In Jesus Mighty Name!
VERSI KETIGA
Seorang guru kelas 4 SD mengajar di kelas Menulis Kreatif…
Dan seperti biasa, dia memulai dengan sebuah cerita; Semut dan Belalang.
“Semut bekerja keras selama musim panas, mengumpulkan persediaan makanan yang cukup untuk menghadapi musim dingin. Tetapi belalang bermain dan bermalas-malasan dan tidak mengumpulkan makanan sedikitpun. Maka ketika musim dingin tiba, tak berapa lama belalang mulai kelaparan. Jadi dia melompat ke rumah semut dan berusaha meminta makanan,
“Semut, tolonglah aku, aku kelaparan dan tidak mempunyai makanan, bagilah makananmu denganku supaya aku bisa melalui musim dingin ini…”
Nah anak-anak, tugas kalian adalah menulis akhir dari cerita tadi…”
Guru tersebut telah mengajar di kelas itu selama bertahun-tahun. Dan selama bertahun-tahun itu, hanya ada dua versi akhir cerita yang ditulis oleh murid-muridnya.
Sebagian menulis semut membagi makanannya dengan belalang, sehingga keduanya bertahan hidup sampai musim dingin berakhir.
Dan sebagian lagi menulis, semut itu berkata,
“Tidak belalang, kamu seharusnya bekerja selama musim panas bukannya hanya bermain-main saja. Aku hanya memiliki makanan yang cukup untukku sendiri!” Jadi semut itu bertahan hidup sedangkan belalang mati kelaparan…
Tapi ketika lembaran-lembaran tulisan dikumpulkan hari itu, guru tersebut menemukan sebuah tulisan yang berbeda… Mark, salah seorang muridnya di kelas itu, menulis versi yang ke tiga:
“Lalu semut memberikan semua makanannya kepada belalang. Belalang tetap hidup melalui musim dingin, dan semut mati kelaparan…”
Di dasar halaman, Mark menggambar tiga salib.
“Dia memberikan segalanya supaya kita beroleh hidup…”
----------
Banyak orang yang mungkin akan berkata bahwa Karya Keselamatan adalah suatu kebodohan. Dan hal itu memang hampir tidak mungkin terpahami, kecuali oleh orang-orang yang pernah menemukan cinta sejati dalam hidup mereka…
Mencintai sampai membodohkan dirinya sendiri, Yesus Kristus telah melakukan semua itu buat kita…
Dan seperti biasa, dia memulai dengan sebuah cerita; Semut dan Belalang.
“Semut bekerja keras selama musim panas, mengumpulkan persediaan makanan yang cukup untuk menghadapi musim dingin. Tetapi belalang bermain dan bermalas-malasan dan tidak mengumpulkan makanan sedikitpun. Maka ketika musim dingin tiba, tak berapa lama belalang mulai kelaparan. Jadi dia melompat ke rumah semut dan berusaha meminta makanan,
“Semut, tolonglah aku, aku kelaparan dan tidak mempunyai makanan, bagilah makananmu denganku supaya aku bisa melalui musim dingin ini…”
Nah anak-anak, tugas kalian adalah menulis akhir dari cerita tadi…”
Guru tersebut telah mengajar di kelas itu selama bertahun-tahun. Dan selama bertahun-tahun itu, hanya ada dua versi akhir cerita yang ditulis oleh murid-muridnya.
Sebagian menulis semut membagi makanannya dengan belalang, sehingga keduanya bertahan hidup sampai musim dingin berakhir.
Dan sebagian lagi menulis, semut itu berkata,
“Tidak belalang, kamu seharusnya bekerja selama musim panas bukannya hanya bermain-main saja. Aku hanya memiliki makanan yang cukup untukku sendiri!” Jadi semut itu bertahan hidup sedangkan belalang mati kelaparan…
Tapi ketika lembaran-lembaran tulisan dikumpulkan hari itu, guru tersebut menemukan sebuah tulisan yang berbeda… Mark, salah seorang muridnya di kelas itu, menulis versi yang ke tiga:
“Lalu semut memberikan semua makanannya kepada belalang. Belalang tetap hidup melalui musim dingin, dan semut mati kelaparan…”
Di dasar halaman, Mark menggambar tiga salib.
“Dia memberikan segalanya supaya kita beroleh hidup…”
----------
Banyak orang yang mungkin akan berkata bahwa Karya Keselamatan adalah suatu kebodohan. Dan hal itu memang hampir tidak mungkin terpahami, kecuali oleh orang-orang yang pernah menemukan cinta sejati dalam hidup mereka…
Mencintai sampai membodohkan dirinya sendiri, Yesus Kristus telah melakukan semua itu buat kita…
Kamis, 03 Maret 2011
Mereka Akan Ingat
Kami sedang menghadiri suatu resepsi pernikahan, ketika seorang pria seumuran saya datang menghampiri dan bertanya apakah saya masih mengenalinya. Tapi bukan saja saya tidak mengenalinya, dia sama sekali terlihat asing bagi saya… setelah beberapa waktu tebak-menebak, dia memberitahu saya bahwa dia adalah tetangga saya ketika masih kecil.
Ada dua hal yang saya ingat tentang keluarganya. Pertama; ibu asuhnya adalah seorang guru piano, dan kedua; mereka mempunyai seekor anjing yang sangat galak yang sering membuat saya ketakutan saat saya pergi les piano ke rumahnya.
Pria itu, Ted, memberi tahu bahwa saya pernah bersaksi kepadanya dan teman baiknya di halte bis. Dia mengulang apa yang pernah saya katakan kepada mereka saat kami bersama-sama menanti bis pagi itu, puluhan tahun yang lalu. Dia masih ingat persis pada semua yang saya katakan waktu itu, ketika saya sendiri bahkan sudah hampir tidak ingat sama sekali…
Mereka tidak menerima Kristus pada hari itu, tapi kemudian di dalam kehidupan mereka, keduanya menjadi Kristen.
----------
Setelah itu saya mengingat kembali masa kecil saya, hari Sabtu sore di musim panas. Guru sekolah minggu kami memberi kelas kami suatu kesempatan untuk menerima Yesus ke dalam hidup kami. Saya masih ingat apa yang dia katakan:
“orang tidak akan pernah lupa saat anda berbicara kepada mereka tentang iman anda.”
Saya juga pernah diberi tahu,
“Keberhasilan dalam bersaksi adalah membagikan Kristus dalam kuasa Roh Kudus, dan meninggalkan hasilnya ke dalam tangan Tuhan.”
----------
Kita tidak akan melakukan sesuatu yang sia-sia, ketika kita melakukannya bersama Tuhan. Setiap perbuatan kasih dan kebaikan, sekalipun tampak sia-sia, sesungguhnya adalah benih yang akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar bagi kemuliaan-Nya…
“Mereka Akan Ingat” by Katherine Kehler
Ada dua hal yang saya ingat tentang keluarganya. Pertama; ibu asuhnya adalah seorang guru piano, dan kedua; mereka mempunyai seekor anjing yang sangat galak yang sering membuat saya ketakutan saat saya pergi les piano ke rumahnya.
Pria itu, Ted, memberi tahu bahwa saya pernah bersaksi kepadanya dan teman baiknya di halte bis. Dia mengulang apa yang pernah saya katakan kepada mereka saat kami bersama-sama menanti bis pagi itu, puluhan tahun yang lalu. Dia masih ingat persis pada semua yang saya katakan waktu itu, ketika saya sendiri bahkan sudah hampir tidak ingat sama sekali…
Mereka tidak menerima Kristus pada hari itu, tapi kemudian di dalam kehidupan mereka, keduanya menjadi Kristen.
----------
Setelah itu saya mengingat kembali masa kecil saya, hari Sabtu sore di musim panas. Guru sekolah minggu kami memberi kelas kami suatu kesempatan untuk menerima Yesus ke dalam hidup kami. Saya masih ingat apa yang dia katakan:
“orang tidak akan pernah lupa saat anda berbicara kepada mereka tentang iman anda.”
Saya juga pernah diberi tahu,
“Keberhasilan dalam bersaksi adalah membagikan Kristus dalam kuasa Roh Kudus, dan meninggalkan hasilnya ke dalam tangan Tuhan.”
----------
Kita tidak akan melakukan sesuatu yang sia-sia, ketika kita melakukannya bersama Tuhan. Setiap perbuatan kasih dan kebaikan, sekalipun tampak sia-sia, sesungguhnya adalah benih yang akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar bagi kemuliaan-Nya…
“Mereka Akan Ingat” by Katherine Kehler
Rabu, 02 Maret 2011
Rancangan Tuhan
Satu hal tentang rencana dan rancangan Tuhan adalah, tak terpahami dan tak terselami oleh pikiran manusia… Jerry Stemkoski, mempelajari hal itu dari seorang petani tua…
Jerry menulis seperti ini:
Pada suatu hari di musim semi, aku berkenalan dengan seorang petani tua. Di musim semi itu sering turun hujan, dan menurutku, turunnya hujan di awal musim seperti itu tentu bagus untuk tanaman.
“Tidak juga,” kata petani tua itu,
“Sebab kalau cuaca terlalu memanjakan tanaman, maka tanaman mungkin hanya akan menumbuhkan akar di permukaan. Kalau itu terjadi, badai akan dengan mudah membuatnya tercabut dari tanah dan mati. Sebaliknya, kalau cuaca kurang bersahabat pada awal musim, maka tanaman harus menumbuhkan akar yang kuat dan dalam untuk mendapatkan air dan zat hara dari kedalaman tanah. Sehingga tanaman cenderung lebih bisa bertahan terhadap badai…”
-------
Akan menyenangkan memang mendapatkan sesuatu dengan cepat dan mudah, tapi Tuhan tidak akan menginginkan kita untuk menjadi anak-anak gampang (Ibrani 12:8).
Jalan-jalan Tuhan memang terkadang sulit untuk dilalui, tapi semua itu dirancangkan untuk membuat kita kuat; bukan hanya kuat untuk melalui masa-masa sulit, tapi juga kuat untuk menerima semua berkat dan kelimpahan yang Dia sediakan bagi kita…
Jangan menyerah ketika keadaanmu saat ini tidak seperti yang engkau harapkan. Dia sedang melatih engkau untuk perkara-perkara besar. Juga karena kesetiaan-Nya, Dia tidak akan membiarkan engkau dicobai melampaui kekuatanmu (I Korintus 10:13).
Tuhan Yesus memberkati…
Jerry menulis seperti ini:
Pada suatu hari di musim semi, aku berkenalan dengan seorang petani tua. Di musim semi itu sering turun hujan, dan menurutku, turunnya hujan di awal musim seperti itu tentu bagus untuk tanaman.
“Tidak juga,” kata petani tua itu,
“Sebab kalau cuaca terlalu memanjakan tanaman, maka tanaman mungkin hanya akan menumbuhkan akar di permukaan. Kalau itu terjadi, badai akan dengan mudah membuatnya tercabut dari tanah dan mati. Sebaliknya, kalau cuaca kurang bersahabat pada awal musim, maka tanaman harus menumbuhkan akar yang kuat dan dalam untuk mendapatkan air dan zat hara dari kedalaman tanah. Sehingga tanaman cenderung lebih bisa bertahan terhadap badai…”
-------
Akan menyenangkan memang mendapatkan sesuatu dengan cepat dan mudah, tapi Tuhan tidak akan menginginkan kita untuk menjadi anak-anak gampang (Ibrani 12:8).
Jalan-jalan Tuhan memang terkadang sulit untuk dilalui, tapi semua itu dirancangkan untuk membuat kita kuat; bukan hanya kuat untuk melalui masa-masa sulit, tapi juga kuat untuk menerima semua berkat dan kelimpahan yang Dia sediakan bagi kita…
Jangan menyerah ketika keadaanmu saat ini tidak seperti yang engkau harapkan. Dia sedang melatih engkau untuk perkara-perkara besar. Juga karena kesetiaan-Nya, Dia tidak akan membiarkan engkau dicobai melampaui kekuatanmu (I Korintus 10:13).
Tuhan Yesus memberkati…
Selasa, 01 Maret 2011
Pembeli Istimewa
Pada suatu hari di sebuah kota kecil di Jepang, datanglah seorang Ibu berpakaian sederhana ke sebuah toko kue mewah di kota itu... Dia datang untuk membeli kue manju (kue yang terbuat dari kacang hijau berisi selai).
Pelayan-pelayan toko itu sangat terkejut melihat Ibu itu, karena pakaiannya yang sangat sederhana menunjukkan bahwa dia orang miskin. Sementara toko itu adalah tempat berbelanja orang-orang kaya. Karena itu seorang pelayan dengan terburu-buru membungkus kue yang dipesan Ibu itu, dengan maksud supaya si Ibu bisa segera meninggalkan toko.
Tapi belum sempat dia menyerahkan kue itu, seorang Bapak setengah baya melangkah keluar dari ruang dalam toko itu, Bapak itu adalah sang pemilik toko.
“Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya.”
Pemilik toko itu kemudian menyerahkan bungkusan kue kepada sang Ibu, sambil sang Ibu menyerahkan uang pembayaran. Pemilik toko itu membungkuk hormat,
“Terima kasih atas kunjungan anda.”
----------
Setelah sang Ibu berlalu, pemilik toko itu berbalik dan menemukan pelayan-pelayan tokonya sedang memandangnya kebingungan. Karena dia memang sudah hampir tidak pernah lagi melayani pelanggan sendiri.
“Saya harus melayaninya sendiri,” katanya, “Ibu tadi adalah seorang pembeli istimewa…”
Pelayan-pelayan toko itu masih saling bertatapan kebingungan, tapi tak ada seorangpun yang berani bertanya.
“Selama ini yang membeli kue di toko kita adalah orang-orang kaya. Mereka bisa membeli berapa saja dan kapan saja, sekalipun harga kue di toko kita agak mahal. Tapi Ibu tadi pasti harus mengorbankan sebagian penghasilannya yang tidak seberapa untuk bisa menikmati kue manju dari toko kita… Karena itulah dia harus dilayani dengan hormat!”
----------
Guys,
Tuhan tidak pernah memandang kita seperti cara dunia memandang. Tuhan tidak akan memandang engkau dari tampilan dan kekayaanmu, dari gelar dan latar belakang keluargamu. Dia memandang kedalaman hatimu…
Seorang janda yang memberi tiga peser, dihargai Tuhan Yesus jauh melebihi pemberian-pemberian besar orang-orang kaya. Karena janda itu, sekalipun tidak punya banyak, masih saja mau memberi… Hatinya yang mencintai Tuhan, membuat dia tetap memberi, sekalipun setelah itu dia tidak punya apa-apa lagi…
Engkau dicintai apa adanya, sebagaimanapun keadaanmu…
Engkau hanya perlu membawa hatimu…
Pelayan-pelayan toko itu sangat terkejut melihat Ibu itu, karena pakaiannya yang sangat sederhana menunjukkan bahwa dia orang miskin. Sementara toko itu adalah tempat berbelanja orang-orang kaya. Karena itu seorang pelayan dengan terburu-buru membungkus kue yang dipesan Ibu itu, dengan maksud supaya si Ibu bisa segera meninggalkan toko.
Tapi belum sempat dia menyerahkan kue itu, seorang Bapak setengah baya melangkah keluar dari ruang dalam toko itu, Bapak itu adalah sang pemilik toko.
“Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya.”
Pemilik toko itu kemudian menyerahkan bungkusan kue kepada sang Ibu, sambil sang Ibu menyerahkan uang pembayaran. Pemilik toko itu membungkuk hormat,
“Terima kasih atas kunjungan anda.”
----------
Setelah sang Ibu berlalu, pemilik toko itu berbalik dan menemukan pelayan-pelayan tokonya sedang memandangnya kebingungan. Karena dia memang sudah hampir tidak pernah lagi melayani pelanggan sendiri.
“Saya harus melayaninya sendiri,” katanya, “Ibu tadi adalah seorang pembeli istimewa…”
Pelayan-pelayan toko itu masih saling bertatapan kebingungan, tapi tak ada seorangpun yang berani bertanya.
“Selama ini yang membeli kue di toko kita adalah orang-orang kaya. Mereka bisa membeli berapa saja dan kapan saja, sekalipun harga kue di toko kita agak mahal. Tapi Ibu tadi pasti harus mengorbankan sebagian penghasilannya yang tidak seberapa untuk bisa menikmati kue manju dari toko kita… Karena itulah dia harus dilayani dengan hormat!”
----------
Guys,
Tuhan tidak pernah memandang kita seperti cara dunia memandang. Tuhan tidak akan memandang engkau dari tampilan dan kekayaanmu, dari gelar dan latar belakang keluargamu. Dia memandang kedalaman hatimu…
Seorang janda yang memberi tiga peser, dihargai Tuhan Yesus jauh melebihi pemberian-pemberian besar orang-orang kaya. Karena janda itu, sekalipun tidak punya banyak, masih saja mau memberi… Hatinya yang mencintai Tuhan, membuat dia tetap memberi, sekalipun setelah itu dia tidak punya apa-apa lagi…
Engkau dicintai apa adanya, sebagaimanapun keadaanmu…
Engkau hanya perlu membawa hatimu…
Langganan:
Postingan (Atom)